Lingkungan Kerja yang Enak di Perusahaan
Di milis JUG indonesia sedang ramai membahas topik tentang lingkungan seperti apa yang enak untuk karyawan. Thread seperti ini biasanya panjang, seperti halnya thread gaji, kedua thread ini punya satu kesamaan : membahas masalah hubungan employee-employer. Ada satu sisi ingin mendapat fasilitas, gaji dan kebebasan berekspresi super satu lagi ingin mendapatkan margin keuntungan selebar-lebarnya.
Thread mulai panjang ketika salah satu “owner” perusahaan melempar pertanyaan seperti ini :
Sebenarnya definisi/kondisi enak di suatu perush itu apa ya? Sebenarnya kita juga lagi cari Java Programmer
Mungkin sbg perusahaan, siapa tahu kita bisa menciptakan kondisi yg enak tsb kalau kita tidak tahu kondisi yg enak, maka tdk pernah tercipta kondisi enak tsb.
Kemudian ada yang menjawab dengan sangat baik pertanyaan di atas
Kriteria sy lingkungan kerja development khususnya aplikasi java development:
A. Aset: perlakukan tiap2 developer sbg aset persh. Menurut sy ada beberapa aspek yg perlu dilakukan dalam pengermbangan aset tsb:
Lingkungan kerja:
1. Buat kondisi lingkungan kerja IT berbeda dengan industri masal. Menurut sy banyak pengembang yang bermimpi kerja di google, krn foto2 ling kerja di google itu manusiawi dan santai banget.
2 Pembagian kerja dan level supervisi yang jelas. Kadang persh kurang orang, sehingga menjadikan dev sbg teknikal writer atau financial controller sbg tugas tambahan.Nilai skill dan pengalaman:
1 diberikan kesempatan untuk menerapkan pola kerja agile, atau lainya yang akan mengasah tiap developer baik dari segi skill atau team work
2 diberi kempatan kreative utk mempelari ‘the new way’(mis new framework) untuk solutioning. 1 – 3 bulan. Kalau dr kacamata persh anggap ajah investasi
3 kadang persh juga perlu analisa kejiwaan developernya. Kerja yang monoton, berhadapan dengan layar komputer, projektor dan berlembar2 kertas use cases bisa mengganggu kejiwaan seseorang. Kegiatan refreshing bersama2 rekan kantor atau aktifitas ‘kegirangan’ lainnya akan sangat membantu.Masa depan
1. Tahapan work appraisal yang terpola. Banyak persh IT tdk menerapkan ini, krn berpikir selama karyawannya tidak nego gaji, maka gaji tsb sdh cukup. Sementara programmer berpikir, gaji sy tdk akan naik kalo sy tdk pindah. Tak heran persh IT punya turnover yg tinggi
2 sama spt umumnya pekerja, masa depan dan tanggungan keluarga menjadi fokusnya setelah pulang dari kantor. Jika persh mampu memberikan jaminan hal tsb, akan mengurangi beban pikiran developerB. Berpikirlah menjadi besar (berlanjut kalo lagi sempet ajah yah)
Jawaban di atas sangat positif dan sangat “indonesia” sekali, jadi mendapat tanggapan yang positif
Kita butuh programmer yg bisa ngomong spt ini nih,
kita sbg perusahaan mau aja memberi & membuat lingkungan spt yg diimpikan para programmer, tapi selama ini blm ada programmer yg ngomong maunya apa.Saya berani investasi untuk membuat perusahaan yg diimpikan programmer, Tapi harus ada orang yg bisa mewujudkannya dlm tindakan nyata. Kalau orang itu berhasil, akan saya jadikan partner.
Kita coba 1 tim kecil aja, 2-3 orang, kalau 2-3 orang tsb berhasil mewujudkan lingkungan/kondisi kerja yang baik tsb, maka kita rekrut bbrp orang lagi,
siapa tahu kita bisa jadi tempat kerja yg diimpikan programmer spt google.
Lagi hangat-hangatnya berdiskusi kok ya ada yang reply statement yang sangat tidak etis (baca WTF!!) seperti ini tho :
Allow me to make it short and simple :
1. Gaji “gede”
2. OT Jarang
3. Kegiatan “nyambi” diworking hours
4. Dikasi waktu buat traning , research and development ,etc . Eventhough deadline didepan mata ?Did i understand correctly ?
Utterly unethical!!
Ada juga yang melihat bahwa kerja di rumah adalah kondisi “nirvana” buat programmer
kondisi yg enak?
bisa ngeliat anak istri main2 di sekitarku..say no to office
hahaha
Buat saya pribadi, kehidupan sosial di kantor itu sangat penting, karena ada teman kerja yang bisa hang-out bareng dan melakukan aktifitas “bergaul” lainya seperti outing, family gathering dan seterusnya. Aktifitas sosial ini kemungkinan besar ga ada kalau kita tinggal di rumah, tapi karena orang indonesia itu orang rumahan banget jadi ga ada masalah kerja di rumah dengan keluarga.
Komentar paling komprehensif dan favorit saya datang dari Endy . Komentar ini paling cocok untuk kondisi dan karakter lingkungan kerja di perusahaan Indonesia.
Pengalaman saya waktu jadi pegawai dulu gini. Nasib kita yang tentukan ya kita sendiri.
1. Gaji
Misalnya, kita mau gajinya naik, tapi kita sendiri gak mau minta kenaikan gaji, melainkan cuma nunggu yang rutin setahun sekali. Coba bilang sama bos, “Saya udah kontribusi A, B, C, kalo diuangkan nilainya sekian untuk perusahaan. Naikin gaji saya dong”. Masalahnya, kita sendiri tidak bisa mengkuantifikasi kontribusi kita, entah karena kontribusinya kurang, gak bisa ngitungnya, atau yang kita kontribusikan sebetulnya tidak signifikan dari sudut pandang perusahaan.2. Karir
Urusan karir apalagi, ini mutlak bener2 harus diurus sendiri. Ini bisa dilihat terutama dari pemanfaatan waktu luang.Namanya programmer pasti ada waktu luang, entah nungguin bos meeting requirement/scope, nungguin usernya ngetes, di jalan menuju ke client,etc. Bagaimana dia memanfaatkan waktu luang? Update status di facebook atau baca ebook Mythical Man Month? Apa isi tweetnya, sharing knowledge (a.k.a self marketing), atau broadcast mood dia saat itu (a.k.a nonsense useless narsis)? Selama waktu luangnya dihabiskan facebookan dan twitteran narsis, ya jangan harap maju. Menunggu training yang disediakan perusahaan? Training Java yang bagus sulit dicari, bahkan walaupun perusahaan mau mentrainingkan kita, instruktur yang bagus itu sulit dicari. Apalagi di Indonesia, programmer yang bagus2 lebih suka coding daripada ngajar, karena bayarannya lebih bagus. Codingnya juga lebih suka di luar negeri (a.k.a TKI)3. Lingkungan kerja.
Nah, kalo kita sudah mengurus diri sendiri di #2, #3 kita bisa menentukan. Pengalaman saya sih, perusahaan IT cenderung fleksibel. Asal kerjaan beres, jam kerja gak terlalu strict. Coba buktikan kalo kita deliver dengan baik, pas jam kerja ya kerja, jangan facebookan. Yang sering lembur itu kadang juga salahnya programmer sendiri, jam kerja facebookan, begitu mepet sore, baru coding. Ya jelas aja pulang malam.Kesalahan kedua, salah estimate. Biasanya PM kan minta estimate dari programmer, kerjaan ini berapa lama. Nah, kitanya terlalu optimis, kerjaan 2 hari dibilang 1 hari, dihitung codingnya aja, testing dan bugfixing gak dihitung.Ya udah ditagih 1 hari sama PM nya, akhirnya pulang malam. Atau dari awal sudah bercita2 mau lembur, misalnya, udah tau kerjaan 12 jam, bilangnya sama PM selesai 1 hari. Nah ini kan namanya emang cari penyakit sendiri. 12 jam kalo mau hidup normal ya 2 x 6 jam, bukan 1 x 12 jam.
Kesalahan ketiga, codingnya gak bersih. Akhirnya bolak balik bug fixing. Cari gampang di awal, tapi jatuhnya jadi boros waktu bolak balik.
Kalo waktu kerja udah dimanfaatkan bener, estimate yang bagus, coding bersih, masih juga OT, ya pindah kerja aja. Programmer Java di Indonesia demandnya jauh lebih besar dari supply. Kalo masih ada yang sulit cari kerjaan, email saya, asal qualified besok langsung kerja. Company ngurusin kita, itu anggap aja bonus. Tapi kalo bercita2 diurusin company, itu namanya cari penyakit sendiri.
Nah itu dari sudut pandang karyawan, dulu saya juga karyawan. Gimana dengan company saya sendiri, ArtiVIsi?
1. Gaji.
Di sini kita gajinya kecil, tapi tiap termin project cair atau berita acara dittd client, kita kasi bonus yang signifikan, sering > gaji. Ini biar fair, kalo mau dapat uang ya deliver. Deliver banyak bug ya bonusnya tertunda karena client gak mau ttd berita acara UAT.2. Pengembangan skill.
First of all, akses langsung ke saya. Mau tanya apa aja silahkan. Tiap kita pake teknologi baru, saya training, contohnya waktu kita migrasi ke Git, implement Maven, dsb. Pake teknologi lama tapi gak ngerti, misalnya Hibernate, ya tinggal telpon atau YM. Yang belum kuliah kita kuliahin, yang udah kuliah kita suruh kursus bahasa Inggris.3. Lingkungan kerja.
Saya termasuk yang beraliran anti lembur, hidup seimbang. Kenapa gitu, soalnya kalo programmer capek, dia akan menambah bug, bukan menambah fitur. Cuma jadi kerjaan tambahan di belakang hari. Kita lembur juga kadang-kadang, tapi jarang, gak jadi lifestyle tiap minggu pasti ada lembur. Dalam sebulan belum tentu ada, kalopun ada paling 4-8 jam. Kalo sampe ada lembur, berarti PMnya kerja gak bener. Entah dia salah estimasi, atau dia overpromise ke client.Ok, demikian sharing, kita tutup dengan iklan. Yang mau apply, langsung aja kirim email ke hrd@artivisi.com. Sertakan CV dan source code aplikasi yang pernah dibikin dalam bahasa apapun (gak mesti Java). Lebih diutamakan source codenya ada di Github atau Googlecode,menunjukkan bahwa Anda programmer gaul yang gak ketinggalan jaman.
![]()
Komentar dari Hendry Luk juga ga kalah bagusnya, cuma keadaan yang digambarkan beliau adalah suasana kerja di negara-negara maju seperti amerika, eropa dan australia. Singapura, Malaysia dan India termasuk “negara maju” dilihat dari industri ITnya, cuma kondisi kerjanya lebih baik dari di Indonesia tapi tidak sebaik yang digambarkan oleh Hendry Luk di bawah ini :
Jempol buat initiativenya! Memang susah kalo employer gak tau apa kondisi yang ngebuat lingkungan yg disukai employee. Ide yang sangat mulia buat go out dan nanya apa yang employee mau.
Tapi di laen sisi, banyak employees yang gak pernah ngerasain tempat kerja yang enak, dan mereka juga gak tau apa yang mereka mau minta. Biasanya mereka cuma bisa kasih saran2 yang ngambang dan cliche, semacam gaji-gede, manajemen yang baik, lingkungan kerja yang nyaman, etc etc, tanpa hal2 yang konkrit. Seorang employee mesti pernah ngerasain lingkungan kerja yang enak dulu sebelom bisa ngasih saran2 yang kongkrit.
Dan kadang lu bahkan bakal kaget bahwa yang membuat lingkungan kerja yang enak itu bukan hal2 yang “grand”, mewah, dan muluk2, tapi justru hal2 sepele & kecil2 ajah yang keseluruhan berkesan kuat dan ngasih kepribadian unik dari lingkungan tersebut.
Yang penting dari lingkungan nyaman justru bukanlah “materi”, tapi adalah lingkungan yang “highly cultured” dan berkepribadian, yg bikin lu ngerasa sebagai part of a small community. Bukan cuma sekedar employee yang bekerja untuk materi.Gw coba kasih contoh2 hal2 konkrit dari pengalaman gw yang bikin gw ngerasa nyaman sebagai employee.. yang mungkin bisa lu terapkan.
1. Kulkas selalu penuh dengan boutique beers/champagne/wine/etc yang bisa lu comot any time (of course its politically inappropriate buat minum2 sebelom jam sore), dan selalu distock terus tiap Jumat (karna adanya point #3).
2. Dapur juga selalu tersedia snacks/breakfast etc, jadi kebanyakan employee sarapan-nya di kantor, dimana lu jadi saling randomly ketemu dengan satu sama laen, secara gak sadar ngejalin hubungan antar seluruh employees walopun berbeda teams/departments
3. Jumat, jam 4 adalah beer o’clock. Semua staff mesti pegang botol bir (ato other drinks). Ada sharing session tiap jumat, dimana semua orang berkumpul di satu ruangan ngelilingin sekeranjang bir, dan 1 orang (digilir tiap minggu) bakal ngebawain topik pilihan dia di projector (dan video-conference ke semua kantor2 cabang laen), ngebahas hal2 baru (framework, best-practices, trend, etc) yang menarik buat dishare ke anggota tim laen.
4. Jumat, setelah sharing session, semua ke dapur buat free friday meal (berkisar antara grilled meats, steak-pies, pasta, gourmet pizza, salad, etc). Semua staff berkumpul makan n minum bareng ngomongin hal2 yg gak berkaitan dengan kerjaan.
5. Tiap pagi/sore, team lu ada daily stand-up meeting. Benefit dari daily-meeting BUKAN semata2 kayak yg lu denger orang2 scrum (memantau progress/kendala project), tapi justru benefit yg gak related dengan project, melainkan social interaction. Meetingnya biasanya casual banget, penuh gosip, jokes, current affairs. Tempat meetingnya ganti2, kadang di luar, duduk di rumput, di sebelah kolam, ada yg sambil makan buah etc. Sering bawa2 maenan (sackballs, rubber ducks, etc) buat dilempar2/ditendang2 to each other. Layaknya any scrum-meeting, tiap member ngasih update ttg kegiatan terakhirnya, both dalam project dan (more importantly) *diluar kerja* (gosip, etc), dan giliran ngomong biasanya ditentukan dengan siapa yg lagi pegang bola. Kadang tiap team punya yel-yel yg khas buat mengakhiri meeting. Ini yang gw maksud saat gw mention “lingkungan kerja yang punya culture dan kepribadian khas”. Padahal ini bukan hal materi, tapi bikin lu ngerasa nyaman di dalam team.
6. Sewa tukang pijat tiap kemis, adalah ide yang bagus. Biasanya kemis gw paling males kerja, karna tinggal 1 hari lagi sebelom weekend. Tapi tukang pijat di kantor selalu jadi satu2nya alasan gw buat get up dari ranjang tiap kemis. Dan juga bagus buat kesehatan, terutama buat profesi kita yang kerjanya duduk terus.
7. Kulkas kantor yang penuh bir ironically justru sering malah jadi hal negatif buat kehidupan social di kantor, karna tiap orang jadi gak pernah lagi keluar bareng2 ke pub etc, karna kalo mo minum ya tinggal buka kulkas. Karna itulah tiap rebo malem adalah hari “going out”. Secara bergilir, 1 orang team member mesti menyelenggarakan kegiatan (dinner, bowling, piano bar, wall-climbing, etc). Kegiatannya TIDAK disponsor/didanai kantor.. Kantor gak ngasih apa2. Again, ini contoh hal yang gak materi, tapi adalah “culture” yang bikin team members merasa bagian dari sebuah family.
8. Ritual yang sering gw jumpai saat lunch time adalah trivia quiz (biasanya dari koran). Sepele tapi good fun, takes away pikiran lu dari kerjaan
9. Training allowance. Terutama buat ngedukung point #3 (sharing-session), dimana tiap employee berhak atas 150 jam training allowance tiap taon, yang bisa dipake buat ngebiayain seminar/conference/training, ato bahkan buat pake buat self-learning research2 hal2 baru di rumah ato di kantor, yang nantinya bisa lu share ke team member laen di sharing-session jumat depan.
10. Health-initiative program, dimana perusahaan ngasih allowance buat reimburse biaya lu yang mendukung active lifestyle lu di luar kantor, e.g. gym membership, sport-club, gears & equipment etc. Ini buat meng-encourage karyawan lu hidup aktif dan sehat. Tentunya ada limit bulanannya, jadi kalo lu beli sepeda ya reimbursenya dicicil across beberapa bulan.
11. Laundry. Jadi baju2 kotor tinggal buang ke keranjang, tiap minggu ada laundry yang dateng. Di indo sih mungkin gak terlalu bermanfaat mengingat tiap karyawan dah punya pembantu sendiri di rumah. Kantor juga nyediain kaos2 (berlogo company) yg lu bisa comot buat pake kerja (gak wajib tentunya), maupun kaos khusus buat yang nyepeda. Tentunya outfitnya mesti reasonably attractive supaya kita mau dan bangga pakenya.
12. Projects, budgets, quotes, costs, revenues, etc semuanya available “REAL-TIME” di intranet (diintegrasi dengan project-management system). Termasuk kontribusi perorangan kita sendiri. Jadi semuanya transparant, lu bisa liat project kita berapa duit, marginnya berapa, situasi project kita gimana financially, apakah kita dah keteteran, kontribusi kita berapa gede, etc. Jadi lu diperlakukan bukan sebagai buruh pekerja, melainkan parter terpenting yang menentukan sukses gagalnya financial company tersebut. Dan ini juga mendorong karyawan dengan attitude yang lebih mature karna bisa liat implikasi financial dari kesuksesan/kegagalan kita mendeliver project.
13. Beberapa company, umumnya yang technologically innovative (e.g. yang bikin algorithm buat 3D processing, ato engineering tool buat NASA dan military), salah satu bagian dari renumeration kita sebagai employe adalah berupa saham dan devident. Ini bikin karyawan bener2 memperhatikan situasi keuangan perusahan tersebut, karna mereka sendiri DIRECTLY benefit dari keuntungan financial companynya. Ini lebih effective buat menjaga inovasi mereka daripada mensegel komputer karyawan supaya gak bisa nyuri source-code keluar (apalagi saat resign).
14. Occasional social activity… jadi bbrp bulan sekali kita ngadain kegiatan (skii, wine-testing, sailing, etc). Kadang ada bbrp company yang narik voluntary fee per orang (e.g. $10 per bulan buat yang berminat), tapi biasanya companynya tetep mensponsor significant part dari biayanya.
15. Online sport-tipping competition, misalnya English premier league, antar pegawai dan families, yang berhadiah duit dan piala di akhir tiap seasonnya. Tiap participant bayar duit ke kompetisi ini, tapi company tetep nyuntik dana buat pump up the prize dan piala-nya, sehingga hadiahnya menantang dan kompetisinya lebih panas.
16. Christmas party! Sekali lagi.. Christmas party! Gw gak bisa stress this enough betapa pentingnya xmas party. Lu gak boleh punya company tanpa xmas party! Theme costume party, get away somewhere, sewa villa ato yatch etc. Gw pernah berapa kali dapet better offer dari job laen, tapi tiap kali gw abis celebrate xmas party (ato liat funny pics/videos dari xmas taon lalu), gw selalu gak pengen pindah, dan refuse the other offer. A memorable end-of-year party tuh punya enormous emotional meaning terhadap hubungan pegawai dan organisasi.
17. Non seriuos award nominations of the year adalah another good idea.. Biasanya saat xmas party. Kasih award buat non-seriuos achievements, e.g. “weirdest eating habbit 2011″, “quote of the year”, “biggest flirt”, etc yg dinominate oleh seluruh employee di akhir tahun, lengkap dengan piala/piagam yang mesti lu pajang sepanjang tahun berikutnya di atas meja
Tapi lagi2, lingkungan kerja yang nyaman itu cuma bisa dibentuk dari etika kerja karyawan yang tinggi. Management style yang relaxed dan “westernised” itu cuma bisa diterapkan pada pegawai yang punya attitude yang mature, motivated, bisa self-manage diri sendiri, creative, punya integrity tinggi, kepedulian terhadap perusahaan, professional, etc.Kadang2 kita sering lacking kualitas ini. Sering loath company sendiri, gak punya integrity, gampang disogok, cuma peduli kepentingan pribadi, gak professional, gak motivated (ato even peduli) buat push organisasi kita sesukses mungkin. etc. Team kayak gitu lebih cocok dengan management style yang authoritarian, dimana tiap pegawai mesti didikte satu persatu kerjaannya, tanpa kebebasan dan ruang buat kreatifitas.
Tapi seriously, gw pernah liat ada yg advertise jobs di forum sini yang ngasih banyak fasilitas, tapi malah ada yg komplain minta lebih baik fasilitasnya diuangkan ajah jadi salary. That’s not very smart!
Coba pikir..Packs of beers, kaos, makanan, laundry, yang biayanya borongan buat puluhan/ratusan employees, itu sebenernya works out murah banget each person… kalo budgetnya diuangkan jadi salary mah sama sekali gak worth a lot.
Fasilitas itu contributes more ke lingkungan yg nyaman for its money daripada salary.
Fantastis bukan suasana kerjanya? ingin tahu bagaimana suasana kerja seperti yang digambarkan Hendry Luk di bawa ke keadaan paling extreme enaknya? silahkan lihat suasanya “extreme enak” di kantornya google ![]()
Mulailah bermimpi bekerja di perusahaan ini, bangun portofolio yang bagus, belajar yang giat, bekerja yang keras dan jangan lupa mengasah bahasa inggris lisan dan tulisan, serta jangan lupa mendengarkan Indo Java Podcast episode 3, wawancara dengan Bramandia yang diterima sebagai pegawai google di googleplex.
Bukannya jaman skrg perusahaan IT Indonesia mengarah menjadi perusahaan Outsourcing, meskipun perusahaan tersebut milik salah satu IT Pro di JUG-Indonesia, kalo begini gimana solusinya ? Akankah tulisan anda hanya wacana saja ? Coba deh tanya ketemen2 anda sesama Javaman, masihkah ada perusahaan Indo spt diwacana anda ? ataukah hanya perusahaan outsource semata yg mungkin blm tau kondisi karyawannya seperti apa. Bukannya cita2 para programmer dewa itu pergi ke singapura/Malaysia ya ? CMIIW. Trima Kasih
Suasana kerja di indonesia maupun di luar negeri sepertinya agak sedikit berbeda. Kalau pengalaman saya sih, justru lebih nyaman suasana kerja di indonesia, dimana hubungan antar pegawai cukup intim dan kehidupan sosialnya cukup sehat. Kalau di Singapura ya kerja itu cari uang, pulang sendiri-sendiri, sebagian besar kan perantau, jadi nggak banyak lah acara-acara keluar bareng gitu, karena semuanya ingin menabung dan mengirim uang ke rumah. Kalau di indonesia beda deh, soalnya banyak sekali yang gaji dihabisin setiap bulan untuk kebutuhan sekunder ataupun tertier. Sedangkan saya di sini yang dipenuhi cuma kebutuhan primer saja.
Solusi agar suasana kerja di perusahaan it indonesia seperti yang digambarkan oleh hendry luk? sepertinya gak akan terlaksana, menurut saya sih (ini termasuk refleksi terhadap sifat saya sendiri) sifat orang indonesia masih belum se mature di perusahaan barat, jadi kalau terlalu dikasi kebebasan malah gak produktif. Harus ada kontrol yang cukup ketat agar kita ini produktif.
ada koq jon, walau ga semuanya tapi 50% sih kayanya udah di cover di perusahaan tempat gw kerja skarang. tentu saja itu di indonesia.
Asyx memang asik banget
)
Point 12 dari hendry luk mungkin yang paling deket harus diusahakan company di indo