Archive for February, 2012
Linus Torvalds, Dari Tugas Kuliah Mengubah Dunia
2Ini posting blog saya setelah 100+ hari tanpa posting
. Menikah itu memang mengubah seseorang, dari single dan nyaris 100% waktu untuk diri sendiri, menjadi nyaris 100% waktu dihabiskan berdua, semuanya serasa lebih seru karena tidak sendirian lagi. Tapi itu bukanya tanpa konsekuensi,
, ya salah satunya saya jadi lebih malas ngeblog ataupun melanjutkan hobi-hobi pribadi seperti dulu.
Ok cukup deh prolognya, saya mau cerita tentang Linus Torvalds deh. Tiba tiba terbetik di pikiran saya untuk menulis tentang satu orang ini, satu orang yang jenius dan mengubah cara kita hidup dalam nyaris 15 belas tahun terakhir, walaupun sebenarnya sejarah itu dimulai beberapa tahun lebih awal. Kata “Kita” di sini lebih saya tekankan kepada “kita” manusia yang terhubungkan di jalur internet, atau mungkin malah orang-orang yang mencari hidup dari boomingnya internet, seperti saya.
Diawali cerita yang menurut saya sangat mirip telenovela atau kisah klasik, seorang mahasiswa master nun jauh di helsinki mencoba menulis kode sederhana untuk membuat kernel OS yang sangat sederhana. Ternyata setelah ditekuni, kernel yang dibuatnya menjadi satu puzzle terakhir dari sebuah proyek besar. Richard Stallman dan kawan-kawan sudah puluhan tahun memulai proyek GNU untuk membuat sistem operasi alternatif yang bersifat terbuka, tetapi GNU project sangat kesulitan membuat kernel OS yang efisien dan berjalan dengan sangat baik. Maka, Linux ini menjadi tambahan terakhir dari proyek GNU menjai satu sistem operasi yang lengkap.
Linux pada awal tahun 90an masih menjadi proyek pribadi Linus, hingga beberapa tahun kemudian lewat usaha kerasnya memperkenalkan linux lewat banyak sekali konferensi, linux mulai banyak digunakan oleh perusahaan di dunia. Awal tahun 2000an menjadi gerakan yang panas sekali, dimana pendukung linux menjadi sangat fanatik memperkenalkan linux ke khalayak. Tetapi sebenarnya linux sudah digunakan banyak sekali orang secara tidak langsung.
Di belahan dunia lain, ada seorang yang sangat murah hati bernama Tim Berners Lee yang mengumumkan kepada khalayak dunia bahwa protokol yang disusunya WWW (world wide web), dilisensikan secara gratis dan dibuka untuk dimanfaatkan semuaaa orang yang tertarik. Protokol ini bisa menghubungkan banyak sekali server, dan memberikan akses informasi dalam bentuk html kepada semua orang. Tetapi sayangnya OS yang digunakan Tim adalah OS yang berbayar dan web servernya pun masih sangat sederhana. Internet yang pada dasarnya perlu pengunjung besar, informasi yang banyak dan tentu saja resource yang sangat besar tidak mungkin dibangun dengan menggunakan software-software yang berbayar, karena biaya yang diperlukan akan menjadi sangat besar.
Kedua peristiwa yang berjalan beriringan ini menjadi satu momentum yang tinggi, di satu sisi industri Internet perlu sever yang berbiaya murah di sisi lain Linux menyediakan apa yang dibutuhkan oleh internet. Momentum ini begiiitu besarnya sehingga tahun 2000 menjadi salah satu tahun bubble paling spektakuler dalam sejarah. Banyak bermunculan perusahaan-perusahaan yang menawarkan service Linux menjadi sangat besar, bahkan beberapa perusahaan berhasil mendaftarkan diri di Bursa Efek, istilahnya Initial Public Offering (IPO). Internet plus Linux mengguncang dunia dan mendorong pertukaran informasi yang sangat cepat dan gratis, dikenal dengan era informasi, bahkan mendorong evolusi sistem operasi.
Pada titik ini, banyak orang-orang mulai memikirkan kembali hakekat software dan lisensinya, karena sekarang software tidak lagi menjadi barang jualan, tetapi lebih menjadi alat untuk mendapatkan nilai yang lebih tinggi, yaitu layanan internet. Maka mulailah didengung-dengunkan Open Source agar orang, perusahaan dan siapapun yang berminat menggunakan software dengan lisensi tertentu untuk membuat layanan dengan nilai yang sangat tinggi di atas software tadi. Google, facebook dan nyaris sebagian besar perusahaan internet sekarang ini menggunakan Linux di server-server mereka. Bayangkan jika OS dengan lisensi open source seperti linux tidak tersedia? layanan seperti google search dan facebook yang beegiitu bagusnya dan memerlukan banyak sekali resource tidak akan mungkin bisa dibuat semurah ini kalau OS dan softwarenya harus berbayar.
Kita balik lagi ke personal dari Linus Torvalds dan kejeniusanya. Linux adalah monolitic software, dimana semua proses dijalankan dari satu single file. Berbeda dengan kepercayaan ahli kernel OS waktu itu, model paling ideal untuk sebuah kernel adalah model node-node kecil yang berjalan secara independen dan bertukar data dengan sistem messaging. Sistem ini dalam prakteknya sangat susah untuk diperbaiki kalau ada masalah, karena masalah bisa saja muncul dari sekenario yang sangat susah untuk direkonstruksi, dimana setiap node punya keadaan yang berbeda-beda dan pesan yang dikirim antar node juga bisa sangat berbeda. Sistem monolitic yang digunakan Linus dalam Linux pada awalnya dikritik habis-habisan oleh dosen pembimbingnya, dan disarankan untuk segera diakhiri saja karena membuang-buang waktu. Tetapi linus bergeming, sistemnya jauh lebih stabil dan tahan terhadap berbagai macam kesalahan yang muncul karena aplikasi maupun hardware tidak berlaku selayaknya.
Hiruk pikuk Linux sedikit mereda beberapa tahun terakhir ini, ditandai dengan evangelist linux yang tidak segencar misalnya 10 tahun lalu, dikarenakan linux sudah menjadi semacam komoditas yang semua orang sudah tahu kehandalanya sehingga tidak lagi diperlukan banyak sekali edukasi. Hiruk pikuk berpindah ke cara bagaimana menggunakan linux sebagai alat untuk menghasilkan produk atau layanan yang lebih menyentuk pengguna secara langsung. Misalnya membuat ecomerce atau layanan internet yang ciamik. Tetapi linus tidak berhenti berkarya, satu produk ditelurkanya setelah sebal dengan software Source Code Management system yang ada, seperti CVS atau SVN. Git lahir dari tanganya yang jenius, dengan sangat yakin linus bilang bahwa dia bisa membuat SCM yang jauh lebih bagus dari semua yang ada di luar sana dalam waktu 2 minggu!, dan ternyata berhasil.
Dalam satu sisi Git merevolusi bagaimana seorang programmer menggunakan kodenya untuk berinteraksi dengan orang lain, hal ini dimungkinkan dengan adanya layanan github.com yang membuat coding menjadi kegiatan sosial layaknya seseorang membagi status wallnya kepada orang lain. Satu pengguna bisa mengikuti pengguna yang lain, berteman dan mengambil proyeknya untuk dibuat branch. Sekarang coding tidak lagi menjadi kegiatan personal, tetapi sudah bisa menjadi kegiatan sosial. Seseorang tidak lagi merasa terpencil dan tidak ada keterikatan dengan kode yang dibikinya, dengan github, kode bisa menjadi pengikat antara seorang programmer dan kode yang ditulisnya.
Nah segitu dulu cerita saya tentang Linus Torvalds, semoga memberi inspirasi kepada kita, bahwa sesuatu hal kecil yang kita mulai dengan sungguh-sungguh bisa mempunyai dampak yang begitu serius kepada sekeliling kita. Jangan ragu-ragu memulai, jangan merasa sia-sia, lakukan, bagi dan kamu akan sadar bahwa apapun yang kita bagi, selama itu adalah pengetahuan, pada satu titik akan menjadi inspirasi bagi orang lain.
Komentar Terbaru